Dampak Proyek KCIC, Murid SDN I Terpadu Malangnegah Harus Siap Ngungsi ke Kantor Desa

PURWAKARTA – Terdampak pembangunan proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), SDN I Terpadu Malangnengah Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta terancam dibongkar dan proses belajar dan mengajar dipindahkan sementera ke aula desa setempat.

Kepala Sekolah SDN I Terpadu Malangnengah, Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta, Asep Somantri mengatakan, proses pemindahan sekolah tersebut sempat mendapatkan penolakan dari warga terutama orang tua siswa. Meski begitu, proyek harus tetap berjalan dan jalan keluar dari permasalahan tersebut pun sedang dilakukan pihak terkait.

“Keadaannya memang harus direlokasi, tapi warga tidak menerima begitu saja, jika belum ada solusinya,” kata Asep. Kamis (28/11/2019)

Baca Juga: Proyek KCIC Dikhawatirkan Cemari Sungai Citarum

Sikap protes warga cukup beralasan, tambah Asep, berkaca pada tahun 2017 lalu lapangan sepak bola di desa tersebut dibongkar karena terdampak proyek yang sama. Namun hingga kini janji relokasi atau pengganti lapangan sepak bola tersebut belum direalisasikan pihak perusahaan terkait.

“Pada tahun ini kejadiannya tidak jauh berbeda, wajar jika warga khawatir hal serupa kembali terulang, makanya mereka minta pembangunan pengganti sekolah baru diselesaikan dulu, jika sudah selesai maka baru akan pindah,” tuturnya.

Diketahui, SDN I Terpadu Malangnengah saat ini berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter dengan jumlah 14 ruang kelas. Pengantian gedung sekolah baru akan di bangun di lahan milik desa yang dipinjamkan ke Pemkab Purwakarta, dan akan diganti pada tahun anggaran 2020. Saat ini jumlah siswa di sekolah tersebut sebanyak 261 siswa SD, 59 siswa SMP dan 23 anak TK.

Baca Juga: Proyek KCIC Dihentikan, Penyebabnya Pencemaran Sungai

“Di sana akan dibangun gedung sekolah sebanyak 12 kelas karena siswa SMP sudah dipindahkan ke SMPN 3 Sukatani, sementara untuk siswa SD masih dalam tahap pembahasan baiknya bagaimana, tapi memang harus direlokasi karena belajar di sana sudah tidak kondusif,” jelas Asep.

Sementara, pembongkaran sekolah tersebut mendapatkan penolakan dari warga terutama masyarakat setempat sebelum sekolah pengganti selsai dibangunkan.

“Kami minta selesaikan dulu gedung sekolah barunya, agar proses belajar mengajar berjalan kondusif,” ungkap salah seorang orang tua murid, Lia (29) yang merupakan warga setempat.

Ia mengatakan, warga telah mengetahui rencana pembongkaran sekolah sudah sejak lama, pengukuran lahan juga sering kali dilakukan boleh pengembang proyek Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC).

Namun, pada hari kemarin pemindahan kegiatan belajar mengajar ke tempat lain begitu mendesak dan terkesan dipaksakan sehingga menjadi perhatian masyarakat sekitar.

“Kemarin ada musyawarah di sini karena dalam waktu dekat kegiatan belajar mengajar harus pindah ke aula desa atau ke sekolah lain. Kami tidak mau seperti itu, karena takut tidak kondusif dan anak-anak kami malah kurang efektif sekolahnya, selesaikan dulu lah gedung sekolah barunya,” ujar dia.(wes/zak)

Baca juga

Leave a Comment