Pemkot Bekasi Dinilai Cuek Soal Keselamatan Pelajar

ZOSS: Pemkot Bekasi dinilai tidak bisa menyediakan zoss yang ideal.

KOTA BEKASI – Dinas Perhubungan Kota Bekasi dianggap kurang peduli terhadap keselamatan anak sekolah terutama murid sekolah dasar negeri (SDN) di wilayah setempat. Soalnya masih banyak SDN di wilayah setempat yang belum memiliki zona selamat sekolah (Zoss), terutama di sekolah yang berada di jalan raya.

Seperti yang terpantau di SDN III Jakasampurna di Jalan Patriot, Kelurahan Jakasampurna dan empat SDN yakni I Kranji, V Kranji, XI Kranji dan XVI Kranji di Jalan Pemuda, Kelurahan Kranji, Bekasi Barat.

Di lima sekolah tersebut, pemerintah daerah lewat Dinas Perhubungan Kota Bekasi belum memasang Zoss. Keberadaan Zoss dianggap pihak sekolah maupun orangtua murid, sangat membantu untuk menekan potensi kecelakaan di kalangan murid yang hendak masuk maupun keluar sekolah.

Tidak hanya dipasangi jalur kejut untuk menurunkan laju kendaraan, Zoss juga terdapat zebra cross, dan aspal berwarna merah di depan gerbang sekolah. Tujuannya, agar pengendara menurunkan laju kecepatannya dan mengutamakan para murid yang hendak menyebrang.

Seperti yang diungkapkan salah satu wali murid SDN Jakasampurna III bernama Heri Marcel (64) ini misalnya. Dia sempat terheran, pemasangan Zoss tidak merata karena dinas hanya membuat fasilitas tersebut di sekolah tertentu saja.

Di sana, dinas hanya memasang Zoss di depan gerbang SDN X Jakasampurna saja, padahal jarak dengan SDN III Jakasampurna sangat dekat karena berada di lingkungan yang sama. 

“Meski sekolahnya berdekatan, tapi masing-masing sekolah punya gerbang sendiri. Yah kalau bisa dibuatkan juga untuk SDN III Jakasampurna,” ujar Heri, Selasa (30/7/2019).

Menurut Heri, keberadaan Zoss memang sangat diperlukan terutama bagi pelajar jenjang SDN. Sebab mereka dianggap belum matang mengetahui tata cara menyebrang di jalan raya.

Meski begitu, kata dia, pihak sekolah sudah menyediakan seorang petugas untuk membantu proses penyebrangan murid di jalan raya. “Untungnya ada petugas yang membantu menyebrangkan murid ke sisi lain jalan, jadi murid bisa merasa nyaman,” imbuhnya.

Orangtua murid lainnya, Ruminah (41) mengatakan seharusnya dinas terkait peduli terhadap keselamatan pelajar saat menyebrang di jalan raya. 

Kata dia, laju kecepatan kendaraan di jalan raya cenderung lebih tinggi dibanding di jalan lingkungan.

“Bukan hanya sepeda motor dan mobil pribadi, mobil angkot juga pada ngebut di jalan ini. Kita sebagai orangtua tentu sangat khawatir soal keselamatan anak saat pulang sekolah,” kata Ruminah.

Karena itu, Ruminah lantas rutin menyempatkan waktu untuk menjemput anaknya yang saat ini bersekolah di SDN III Jakasampurna guna menghindari potensi kecelakaan yang merenggut anaknya. 

“Bukan hanya takut ketabrak mobil, tapi saya juga khawatir jadi korban kekerasan. Makanya setiap hari saya antar dan jemput di sekolah,” imbuhnya. 

SDN Pernah Usulkan Rambu Zona Selamat Sekolah

Petugas keamanan di SDN III Jakasampurna dan SDN I Kranji, di Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi mengungkapkan pihak sekolah sempat mengusulkan kepada dinas terkait untuk memasang rambu Zoss di depan gerbang. 

Akan tetapi, usulan tersebut belum terealisasi sehingga mereka tetap membantu para murid SDN menyebrang di jalan raya.

“Waktu itu sekolah lewat Dinas Pendidikan sudah mengusulkan ke Dinas Perhubungan, tapi belum dipasang. Justru malah SDN X Jakasampurna yang lebih dulu dipasang,” kata Maulana (32) petugas keamanan SDN I Kranji.

Maulana mengatakan, selama ini belum pernah ada kecelakaan yang sampai merenggut nyawa para murid meski potensi kecelakaan tetap ada. Kata dia, banyak murid terutama anak laki-laki yang menyebrang tanpa memperhatikan aba-aba yang diberikan Maulana kepada mereka.

“Saya sudah bilang nyebrang di jalan rayanya bareng-bareng biar aman, eh ada aja beberapa anak yang nekat nyebrang lari. Untungnya tidak sampai kecelakaan,” ujarnya.

Sedangkan Hendro (53) petugas keamanan SDN III Jakasampurna mengaku pernah tersenggol stang kemudi pengendara motor saat membantu murid menyebrang di jalan raya. 

Namun saat itu, Hendro tidak mengalami luka meski tubuhnya sempat terjatuh.

“Cuma ibu-ibu teriak aja, untungnya sih nggak sampai luka. Saya juga bersyukur anak-anak selama saya kawal sejak 2012 tidak pernah ada yang ketabrak kendaraan,” ungkap Hendro.

Meski telah dibantu oleh petugas keamanan sekolah, namun Hendro berharap agar dinas terkait bisa memasang rambu Zoss. Selama ini, kata dia, dinas terkait hanya memasang zebra cross saja di depan gerbang sekolah.

“Itupun catnya sudah pudar, keberadaan zona selamat sekolah tentu sangat membantu kami untuk menyebrangkan murid di jalan raya,” katanya. (kub/naz)

Baca juga

Leave a Comment